130 Ekor Sapi Kurban Untuk Masyarakat Pesisir

Hari Raya Idul Adha identik dengan qurban. Tak heran, setiap kali idul adha tiba, masyarakat berlomba-lomba meraih kesempatan ini, dengan melakukan qurban, menyembelih sapi atau kambing untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat, sebagai bentuk berbagi kepada sesama.
Hal inilah yang dilakukan Pemerintahan Kota Medan, Minggu siang (6/11), dalam merayakan Idul Adha 1432 Hijriah, yang kali ini menyembelih sapi qurban sebanyak 130 ekor.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk pemotongan seluruh sapi yang dilakukan bekerja sama dengan Penggerak PKK setempat, kali ini  dilakukan secara terpusat di Rumah Potong Hewan (RPH), di kawasan Mabar, Kecamatan Medan Deli. Penyembelihan yang dilakukan usai pelaksanaan sholat ied inipun terlihat disambut antusias oleh ratusan masyarakat.

Walikota Medan Rahudman Harahap yang turut memantau proses penyembelihan mengungkapkan, jumlah sapi yang diqurbankan tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu. “ini sebagai bukti kesadaran masyarakat, betapa pentingnya arti perayaan idul adha. Atau dengan kata lain, suri tauladan yang disampaikan nabi ibrahim dan putra nabi ismail untuk ikhlas dan berbagi, secara perlahan mulai terbangun di dalam hati masyarakat” ungkap Rahudman.

Dijelaskannya lagi, penyaluran daging qurban ini akan diprioritaskan kepada seluruh kaum dhuafa, khusunya yang tinggal di kawasan pesisir pantai dan mayarakat yang tinggal di kawasan rel kereta api. “Inilah cara kita untuk berbagi dengan sesama, agar masyarakat kita yang tinggal di kawasan itu, juga bisa turut memeriahkan Idul Adha tanpa merasa ada kesenjangan” harapnya.

Agar pembagian tepat sasaran, setiap sapi yang sudah disembelih, selanjutnya diantar langsung ke posko-posko pembagian yang tersebar di 151 kelurahan, untuk dibagikan kepada masyarakat yang memiliki kupon.
“ini kita lakukan untuk menghindari terjadinya kericuhan dalam pembagian. Jangan amal yang kita lakukan, berubah menjadi dosa karena warga yang berhak menerima ini, harus menjadi korban harus berdesak-desakan mendapatkannya” tukasnya. (yud)

(jakcity.com)

Kurban THK Hingga Perbatasan Negeri

Jakarta, 7 November 2011 – Wilayah perbatasan Indonesia dengan negara tetangga sebagian masih merupakan daerah yang cukup tertinggal, baik dari segi ekonomi maupun akses terhadap layanan publik lain seperti pendidikan dan kesehatan. Menyadari akan kekurangan tersebut, Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa (THK) menyelenggarakan pemotongan kurban hingga menjangkau daerah-daerah perbatasan. Daerah tersebut diantaranya, perbatasan Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste, perbatasan Kalimantan Timur dengan negara bagian Sabah, Malaysia Timur, dan perbatasan Provinsi Papua dengan Papua Nugini.
“Sasaran kurban THK memang tidak di kota, namun menjangkau daerah-daerah yang mungkin tidak terjangkau oleh orang lain. Kami bersyukur bahwa THK memiliki jaringan peternak yang sangat luas sehingga dapat memotong kurban dimanapun dalam jumlah berapapun, insya allah,” tutur Yuli Pujihardi, Direktur Eksekutif THK (7/11)
Menurut Yuli, berbeda dengan penerima manfaat di kota yang sebenarnya tidak terlalu susah mendapatkan daging pada saat non lebaran haji, di daerah terpencil, makan daging merupakan sesuatu yang berharga. Seperti halnya di Atambua (NTT), walaupun warga setempat katakanlah banyak memiliki hewan, ternyata mereka tidak sampai hati mengonsumsi karena lebih memilih untuk dijual.
“Di Jakarta, orang miskin dengan lima ribu rupiah bisa mendapat sepotong daging sapi kecil. Di daerah tidak ada yang menjual ketengan. Maka mereka sangat berharap bahwa saudara-saudara mereka yang mampu memotong kurban di sana,” imbuh Yuli. []

(THK, Tebar Hewan Kurban)

Manajemen Pembagian Daging Kurban

Salah satu ritual ummat muslim setiap tahun usai melaksanakan sholat idul adha adalah memotong binatang kurban. Ritual itu biasanya berlanjut sampai habis hari tasriq yaitu 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Daging kurban tersebut kemudian dibagikan kepada ummat yang berhak menerimanya terutama fakir miskin dan anak-anak yatim piatu.

Memang pelaksanaan kurban memiliki makna yang sangat mendalam bagi ummat muslim. Selain sebagai sarana ibadah bagi orang-orang yang mampu melaksanakannya juga memakna syiar, tegang rasa bagi sesama. Sebab, pada hakekatnya, muslim itu adalah bersaudara yang sering dimisalkan bagai satu tubuh. Bila satu bagian tubuh ada sakit, maka sekujur tubuh yang lain juga merasakan hal yang sama. Karenanya, bisa jadi berkurban adalah manifestasi dari itu semua.

Semakin banyak orang berkurban, maka semakin banyak saudara-saudara yang lain merasakan kenikmatan menyantap daging. Sebab, masih banyak ummat muslim di Indonesia, jangankan untuk membeli satu kilo daging terkadang makanpun sehari-hari sulit mereka peroleh. Sehingga dengan demikian, paling tidak pada hari-hari bahagia seperti ini mereka mampu merasakan kebahagiaan itu.

Hanya saja yang sering membuat mata kita nanar hampir setiap moment seperti ini adalah saat pembagian daging kurban itu sendiri. Perasaan kita miris dan teriris melihat mereka yang berhak mendapat daging kurban itu berdesakan dan bahkan tidak jarang ada yang jatuh korban. Terinjak, terluka atau bahkan ada yang pingsan. Alam pikiran sehat terkadang tidak habis pikir kenapa pemandangan seperti itu seringkali terjadi pada moment-momen seperti itu. Bukan hanya pada saat menerima daging kurban saja, tetapi saat ada moment penerimaan zakat pemandangan seperti itu bahkan lebih mengerikan lagi yaitu ada yang jatuh korban. Apakah hal-hal seperti ini tidak dipikir secara matang sehingga tidak ada lagi pemandangan seperti itu? Saya pikir, pemandangan seperti itu, selain memilukan juga sangat memalukan bagi ummat Islam yang lain.

Menghindari pemandangan yang tidak mengenakkan saat moment seperti pembagian daging kurban atau termasuk pada saat pembagian zakat semestinya perlu ada manajemen yang baik. Mereka yang telah ditunjuk bertugas sebagai panitia pelaksana semestinya harus memikirkan cara yang efektif sehingga kejadian-kejadian atau pemandangan seperti yang kita saksikan selama ini tidak terulang lagi.

Saya kira salah satu cara yang paling efektif adalah dengan cara mengetahui secara pasti data penerima baik daging kurban atau zakat lainnya termasuk wilayah tempat tinggal masing-masing. Melalui data tempat tinggal penerima maka kurban dapat disebarkan sesuai dengan kebutuhan. Sehingga pelaksanaan kurban tidak bertumpuk pada satu tempat. Kecuali tempat eksekusi itu cukup luas. Itu pun harus ditentukan secara pasti wilayah-wilayah dimana penerima daging kurban itu berasal. Misalnya bagian timur untuk masyarakat wilayah A untuk 100 orang yang sudah memiliki kupon, bagian barat untuk wilayah B untuk 200 orang dan seterusnya.

Memang pihak panitia harus bekerja ekstra keras, selain mendata para penerima juga harus mendata secara pasti jumlah kurban. Pendataan ini harus dilakukan, paling kurang 5 hari sebelum pelaksanaan kurban.

Selain itu, dapat juga panitia memberikan kepada perwakilan daerah. Atau mengantar langsung ke rumah-rumah. Jadi penerima kurban tidak perlu repot-repot mendatangi tempat-tempat penyembelihan. Para penerima daging kurban, menunggu saja diantar ke tempat tinggal mereka masing-masing.

Saya kira, kedepan baik panitia kurban atau juga panitia pembagian zakat harus memikir cara-cara yang efektif untuk membagikan kurban atau zakat kepada yang berhak. Sebab, bila pemandangan seperti ini terus menerus terjadi dan kembali terulang setiap tahunnya sungguh sangat memalukan. Hanya untuk 1 kg daging atau untuk uang Rp. 30.000 atau terkadang hanya Rp. 10.000 harus mengerang nyawa atau paling kurang terinjak-injak. Masa, kejadian seperti harus terjadi terus menerus? Sungguh sangat miris negara kita ini…..hmmmm.

(Kompasiana : Djamaluddin Husita)